BERPANTUN DI MADRASAH ALTERNATIF ICE BREAKING UNTUK MENINGKATKAN MINAT BACA PESERTA DIDIK


Oleh: Surip Sriatun

Pendidikan di madrasah dewasa ini dituntut untuk dapat menyediakan bekal sikap, pengetahuan, ketrampilan yang dapat membantu siswa mempersiapkan dirinya menyongsong revolusi industri 4.0. Kemajuan teknologibaru yang pesat menuntut para pelaku dan pengambil kebijakan pendidikan melakukan penyesuaian dalam pelaksanaan pendidikan agar peserta didik mendapat bekal pengetahuan dan ketrampilan sesuai zamannya.
Kurikulum 2013 sudah beberapa tahun digulirkan dan guru diharapkan dapat mengawal kegiatan belajar dengan tepat agar tuntutan dapat terpenuhi untuk melayani kebutuhan belajar generasi milenial. Namun kenyatannya kondisi pembelajaran saat ini belum sepenuhnya menggambarkan kegiatan belajar mengajar yang optimal. Beban belajar peserta didik MA yang cukup banyak sampai 53 JTM per pekan mengharuskan peserta didik belajar di madrasah dari 07.00 sampai 15.15. Hal ini membuat peserta didik menjadi lelah dan jenuh dalam kegiatan belajar di kelas. Guru harus berpikir dan berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik antusias mengikuti kegiatan pembelajaran.
Di sisi lain minat baca peserta didik dinilai masih rendah. Menurut PISA ( Programme for International Stu dent Assesment ) yang digagas oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) program internasional yang bertujuan untuk memonitor literasi membaca, kemampuan matematika, dan kemampuan sains, pada tahun 2015 tingkat literasi peserta didik di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara peserta lain. Yaitu berada di peringkat 62 dari 72 negara peserta. Dalam sambutannya Wakil Menteri Keuangan Marsadiasmo saat pembukaan Festival Literasi tanggal 4-5 September 2018 mengatakan bahwa tingkat literasi Indonesia masih lebih rendah dibanding Vietnam, padahal anggaran pendidikan nya sama besar yakni 20 %. Kenyataan ini menuntut guru memikirkan bagaimana cara meningkatkan minat baca di kalangan peserta didik.
 Salah satu cara melakukan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan memulai tahap awal kegiatan yang menarik. Munif Chatib (2014) menyebutkan bahwa menit-menit pertama mengajar adalah waktu terpenting untuk seluruh proses pembelajaran, dan membawa siswa ke dalam kondisi zona alfa sangat penting dilakukan guru di awal kegiatan belajar.
Ice breaking dipandang sebagai salah satu cara efektif membawa siswa ke zona alfa. Ice breaking yang berarti “memecah es” mengandung maksud menghilangkan kebekuan untuk membuat suasana menyenangkan di dalam kelas. Menurut Moh.Soleh Hamid ice breaking adalah permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok. Salah satu ice breaking yang dapat dipakai dalam kegiatan belajar mengajar di madrasah adalah berpantun. Berpantun merupakan kegiatan menciptakan dan membawakan pantun.
Untuk dapat berpantun dengan baik dibutuhkan keterampilan tertentu. Keterampilan ini tidak dapat dikuasai hanya melalui pemaparan teori. Seseorang bisa terampil berpantun jika dibiasakan berlatih dan praktek dengan sunguh-sungguh.
Berpantun Sebagai Salah Satu Ice Breaking.
Setiap guru tentu pernah mengalami situasi belajar yang beku dan membosankan. Siswa terihat jenuh, konsentrasi belajar menurun, lelah dan mulai bosan. Biasanya siswa melampiaskannya dengan mengobrol atau membuat kegaduhan di kelas. Pada situasi seperti inilah diperlukan ice breaking. Ketika pikiran tidak bisa terfokus lagi maka segera diperlukan upaya pemusatan perhatian kembali.
Ice breaking adalah permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok. Ice breaking merupakan peralihan dari situasi yang membosankan, membuat mengantuk, menjenuhkan dan tegang menjadi menyenangkan, menarik dan rileks.
Landasan yang menyatakan pentingnya ice breaking dalam pembelajaran adalah :
1.        Landasan empiris; hasil penelitian beberapa ahli mengungkapkan bahwa belajar akan lebih efektif jika peerta didik dalam keadaan gembira.
2.        Landasan teoritis; menurut Howard Gardner guru harus menggunakan keadaan positif peserta didik untuk menarik mereka dalam pembelajaran di bidang-bidang yang mereka dapat megembang kan potensinya. Yang berarti bahwa suasana hati yang gembira dan tidak tertekan diyakini akan sangat membantu peserta didik dalam konsentrasi belajar.
3.        Landasan Yuridis ; undang-undang RI No.20 pasal 40 ayat 2 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang berbunyi :”Guru dan tenaga kependidikan berkewajiban:
1)        menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis
2)        mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan
3)      memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya”.
Ada beberapa tujuan penggunaan ice breaking, diantaranya ; menghilangkan sekat-sekat pembatas antar peserta didik, menciptakan motivasi untuk melaksanakan aktivitas selama kegiatan belajar, membuat suasana menjadi rileks, memfokuskan peserta didik pada materi pembahasan. Ice breaking dilakukan untuk menggiring peserta didik ke zona alfa yaitu saat seseorang berada tahap yang paling iluminasi (cemerlang), kondisi yang terbaik untuk belajar sebab neuron (sel saraf) sedang berada dalam satu harmoni. Yaitu kondisi yang rileks dan menyenangkan. 
Banyak ragam ice breaking yang dapat diperguna kan seperti membuat yel-yel, imajinasi angka, games, senam otak, video, relaksasi. Salah satu ice breaking yang berupa games  dapat dilakukan dengan berpantun. Berpantun ini dimainkan secara berkelompok dengan langkah sebagai berikut :
1.      Guru membentuk kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 peserta didik.
2.      Masing-masing perwakilan kelompok mengambil nomor urut dalam keadaan tertutup.
3.      Guru menampilkan dengan proyektor daftar kata sebanyak 20-40 kata yang bisa dipakai untuk menyusun pantun.
4.      Dalam 3 menit peserta didik diberi kesempatan menyusun pantun dengan kelompoknya mengguna kan salh satu kata yang ditampilkan di proyektor
5.      Kelompok yang selesai duluan dipersilakan membacakan pantunnya.
6.      Kelompok yang mampu membuat pantun dengan benar sesuai kaidah  dan paling banyak keluar sebagai pemenang.
Lalu bagaimana cara membuat pantun yang benar dan sesuai kaidah? Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang teridiri atas empat baris, setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a. Pantun terdiri atas dua bagian; sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama yang kerap kali berkaitan dengan alam. Dua baris terakhir pada pantun merupakan isi yang menjadi tujuan dari pantun tersebut.
Upaya Meningkatkan Minat Baca Peserta Didik
Minat baca yang rendah merupakan masalah serius bagi dunia pendidikan dan bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Melalui membaca buku kita dapat mengetahui berbagai informasi dan melatih otak untuk berpikir secara kritis sehingga dapat melahirkan generasi yang cerdas. Apabila peserta didik tidak suka membaca maka pengetahuan mereka juga akan sempit dan tidak akan pernah bisa berkembang, yang mereka ketahui hanya terbatas.  Rendahnya minat baca peserta didik menjadi tanggung jawab kita untuk mengubahnya.
            Kebiasaan membaca muncul dari didikan lingkungan terdekat, yaitu lingkungan keluarga. Orang tua baiknya mengalokasikan waktu khusus untuk membaca secara konsisten agar anak terbiasa untuk membaca. Selain itu, penggunaan teknologi gadget mesti dilakukan dengan lebih bijaksana agar dapat memberikan dampak positif mengenai peningkatan literasi.
Peran pendidik pun turut andil dalam menciptakan kebiasaan membaca sejak dini.
Adapun peran guru dalam meningkatkan minat baca peserta didik adalah sebagai berikut :
1.      Dinamisator, guru mengatur dan mengelola semua kegiatan membaca anak dengan mendinamiskan seluruh sumber bacaan.
2.      Evaluator, guru memberikan respons terhadap seluruh kegiatan membaca anak dan menilai hasil bacaan anak dengan memberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil pemahaman terhadap yang dibacanya.
3.      Konselor, guru memberikan petunjuk-petunjuk untuk menciptakan suasana psikologis yang kondusif demi terwujudnya jiwa, semangat, dan motivasi dalam membaca yang optimal.
4.      Motivator, guru menjadi seseorang yang selalu mendorong dan memotivasi anak untuk mewujudkan minat baca yang tinggi.
5.      Supervisor, guru mengawasi proses membaca anak, baik dalam jarak dekat maupun jarak jauh agar anak merasa selaluada yang mengawasinya.
Melakukan ice breaking dengan berpantun berarti mengajak peserta didik untuk bermain-main dengan kata-kata, ide dan estetika seni. Kemampuan bahasa diasah setiap kali menciptakan bait pantun.
Seorang yang ingin membuat pantun seperti melihat seluruh kata-kata yang akan digunakan di depan matanya. Pantun sendiri pada dasarnya adalah sebuah ide atau gagasan. Kemudian, gagasan tersebut dihias atau dibingkai dalam estetika seni: dalam rima dan perhitungan suku kata.
Jika dalam suatu ice breaking berpantun guru menentukan jenis kata apa yang wajib dipergunakan sebagai salah satu kata dalam pantun (misalnya nama-nama ikan) tentu peserta didik akan berupaya berliterasi/membaca buku atau berselancar di internet untuk mengetahui nama-nama ikan. Selanjutnya memilih nama-nama ikan yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan dalam pantunnya. Contoh pantunnya sebagai berikut :
Ikan cakalang dari Belawan
Ikan kembung dari Brastagi
Selamat datang wahai kawan
Selamat bergabung di grup antologi

Ikan cucut ikan kakap
Ikan bawal dan arowana
Silakan sebut nama lengkap
Serta asal dari mana

Dari contoh pantun di atas terlihat bahwa untuk dapat membuat pantun sangat perlu membaca literatur, agar kaya akan kosa kata dan dapat memilih kata-kata yang tepat. Dengan kata lain untuk berpantun peserta didik perlu membaca.
            Andaikan setiap guru mata pelajaran di MA melakukan satu kali ice breaking dengan berpantun, maka karena mata pelajarannya ada 20 peserta didik terpaksa akan membaca 20 topik sesuai materi pelajaran yang disampaikan guru. Berawal dari terpaksa membaca untuk dapat berpantun, lama-lama akan menjadi kebiasaan membaca buku. Dengan demikian berpantun meningkatkan minat baca peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA
Deni Permana, 2018, Ragam Ice Breaking Guru Zman Now, Pustaka Media Guru
Istiqomah, Pembelajaran dan Penilaian High Order Thingking Skills, Pustaka Media Guru.
Moh.Soleh Hamid,2011, Metode Edutainment Menjadikan Siswa Kreatif dan Nyaman di Kelas, Diva Press.
Munif Chatib,2011, Gurunya Manusia,Jakarta, Alfabet

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UPAYA GURU RAUDHATUL ATHFAL DALAM MENUMBUHKAN MINAT LITERASI PADA ANAK USIA DINI

Kejayaan Islam Karena Literasi, Kemunduran Islam Karena Umat Tinggalkan Liteasi

LITERASI IQRO MEMBANGUN PERADABAN GENERASI MILENIAL