Kejayaan Islam Karena Literasi, Kemunduran Islam Karena Umat Tinggalkan Liteasi
Oleh : Titin Sa’diah
Pengantar
Jika kita membaca sejarah kejayaan
Islam serta puncak keemasan, maka hal yang tidak boleh dan tidak bisa
ditinggalkan adalah, adanya peran perpustakaan, serta banyaknya ilmuwan muslim
yang suka menulis.
Bahkan
seorang Prof Raghib as-Sirjani dalam Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia
sampai-sampai berpendapat, tidak ada yang satu masyarakat pun di atas kaum
Muslimin dalam hal kecintaan terhadap buku dan perhatian terhadap perpustaka
an.
Hal itu membuktikan, betapa umat
Islam saat itu merupakan umat yang paling suka membaca dan menulis, singkatnya
sangat mencintai ilmu pengetahuan [secara umum], tidak hanya ilmu agama saja.
Lebih
lanjut, Prof Raghib as-Sirjani mengatakan bahwa, dunia literasi yang ada pada
zaman modern sekarang ini merupakan hasil perkembangan yang telah lebih dahulu
dirintis oleh umat Islam sebelumnya.
Hal ini bisa dibuktikan bahwa para
sultan Muslim di masa lalu sudah lebih dahulu menghadirkan pelbagai macam
perpustakaan di Asia, Eropa, dan Afrika, yang pada akhirnya menginspirasi
bangsa-bangsa non-Muslim.
Saat
kejayaan umat Islam, hampir di penjuru kerajaan dan pusat pemerintahan hingga
ke masjid-masjid, semua berlomba-lomba membangun perpustakaan, serta
menggerakan umatnya untuk suka membaca dan menulis.
Saat
itu, pusat ilmu pengetahuan tak hanya disandang Baghdad saja, melainkan hampir
semua dinasti-dinasti Islam lainnya berlomba-lomba membangun perpustakaan guna
menjadi yang terbaik.
Darul `Ilmi, Universitas al-Azhar,
yang dipelopori Dinasti Fatimiyyah di Kairo, Mesir, misalnya. Sejak awal, para
sultan Fatimiyyah hendak meletakkannya dalam konteks persaingan dengan Dinasti
Abbasiyah. Bila Baghdad mampu menjadi permata peradaban umat manusia, mengapa
Kairo tidak?
Kunci kemenangan fastabiqul
khairatini terletak pada peningkatan mutu perpustakaan. Maka, berdirilah Masjid
al-Azhar pada 971 sebagai pusat aktivitas keagamaan dan keilmuan.
Mercusuar lainnya adalah perpustakaan
warisan Dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol). Perintisnya adalah raja kedua
wangsa tersebut di Andalusia, Sultan al-Hakam II. Dia memang terkenal sebagai
pencinta ilmu pengetahuan.Sebuah sumber menyebutkan, koleksi pribadinya
mencapai lebih dari 600 ribu buku. Sosok yang memimpin dalam periode 961-976
ini lantas membangun perpustakaan besar di Kordoba dengan meniru model Bayt
al-Hikmah Baghdad.
Saat itu koleksinya melampaui jumlah
400 ribu buku. Letaknya termasuk dalam kompleks istana, tetapi segera menjadi
pusat berkumpulnya para ilmuwan dari penjuru dunia, terutama atas undangan
Sultan al-Hakam II sendiri.
Kecintaannya
terhadap literasi dibuktikan dengan upayanya membeli begitu banyak buku dari
Baghdad, Kuffah, Basrah, Damaskus, Konstantinopel (kini Istanbul), Kairo,
Mekah, dan Madinah. Lantaran meniru cara Bayt al-Hikmah Baghdad, Sultan al-
Hakam juga menggiatkan aktivitas penerjemahan teks-teks dari bahasa Latin dan
Yunani ke bahasa Arab.Untuk memuluskan proyek penerjemahan ini, dia membentuk
tim yang terdiri atas ilmuwan Muslim dan Katolik. Bahkan, dia sendiri ikut
menulis sebuah historiografi tentang Andalusia.
Membuat Jenis-jenis
Perpustakaan
Jika saat ini anda tahu adanya
berbagai jenis perpustakaan, maka anda harus ingat bahwa di masa keemasan
Islam, perpustakaan juga sudah dibuat pengelompokan. As-Sirjani membuat
klasifikasi tentang perpustakaan dalam konteks peradaban Islam sebagai berikut;
Perpustakaan Akademi
Sepemahamannya, jenis inilah yang
paling masyhur. Contohnya adalah Baytul Hikmah di Baghdad.
Sifat
akademis tampak dari fungsi perpustakaan ini yang tidak sekadar mengoleksi beragam
buku-buku atau artefak-artefak berharga, tetapi juga pusat studi dan aktivitas
penerjemahan yang dilakukan para sarjana dari beragam bangsa, baik Muslim
maupun non-Muslim.Perpustakaan akademi dapat dianggap sebagai bukti
keberpihakan penguasa Muslim setempat terhadap dunia literasi.
Perpustakaan Khusus
Jenis ini lebih bersifat swasta,
alih-alih publik. As- Sir jani menjelaskan, di era kejayaan Islam, banyak
ilmuwan Muslim yang memiliki perpustakaan dengan koleksi yang berlimpah.
Tidak sedikit pula tokoh-tokoh Muslim
yang meyakini derajat sosialnya terangkat bilamana mendirikan perpustakaan
besar. Di antara mereka adalah Khalifah al-Muntashir dari Dinasti Abbasiyah,
al-Fatah bin Khaqan, Ibnu al-Amid, dan Abu Matraf.
Meskipun hanya berkuasa enam bulan lamanya,
Khalifah al-Muntashir merupakan pemimpin populer di tengah rakyat. Dukungannya
terhadap perkem bangan ilmu pengetahuan begitu besar, termasuk dengan
mendirikan perpustakaan. Selanjutnya, Ibnu
Khaqan dikenal sebagai politikus ulung dan juga pencinta ilmu pengetahuan.
Mantan gubernur Mesir dan Suriah pada zaman Abbasiyah itu memiliki perpustakaan
megah di pusat kota Samarra (Irak).
Sementara itu, Ibnu al-Amid merupakan
pakar tata kota dari Persia. Sosok yang wafat pada 970 itu mendirikan
perpustakaan besar di Ray yang pengelolanya antara lain adalah filsuf Ibnu
Miskawaih. Adapun Abu Matraf mempunyai perpustakaan pribadi di Andalusia dengan
banyak koleksi langka pada zamannya.
Perpustakaan Umum
Perpustakaan umum ini merupakan
kebalikan dari jenis yang kedua.Dengan sokongan pemerintah setempat,
perpustakaan umum di zaman keemasan Islam berdiri untuk melayani masyarakat,
baik Muslim maupun non-Muslim. Dalam hal ini, umat Islam meletakkan dasar-dasar
manajemen perpustakaan modern.
Sebagai
contoh, Perpustakaan Kordoba yang berdiri sejak tahun 961 di
Andalusia.As-Sirjani menuturkan, di sana negara mempekerjakan sejumlah pegawai
sesuai spesialisasinya. Ada yang bertugas memelihara buku-buku, mengumpulkan
naskah- naskah, atau menentukan kapasitas rak dan penggolongan genre. Dengan
demikian, publik dapat mengakses semua koleksi yang terdapat di dalamnya dengan
mudah.
Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah. As-Sirjani menerangkan,
di negeri-negeri Islam semua sekolah dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan. Sultan
Nuruddin Mahmud dari Dinasti Zengid, misalnya, membangun 42 unit madrasah di
Suriah. Setengah dari jumlah tersebut bahkan didanai dari uang nya sendiri.
Pembangunan madrasah-madrasah itu
seiring dengan penguatan jaringan perpustakaan. Contoh lainnya adalah seorang
menteri Sultan Shalahuddin, al-Fadilah. Di Kairo, Mesir, dia menyumbang 200
ribu buku untuk penyeleng garaan perpustakaan yang terintegrasi dengan
madrasah.
Perpustakaan Masjid Universitas
Perpustakaan yang tumbuh dari
masjid-universitas. Untuk diketahui, universitas pertama di dunia adalah
Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang berdiri sejak tahun 859. Sejarah
Al-Qarawiyyin bermula dari sebuah masjid dan perpustakaan yang didirikan
Fatimah al-Fihri. Setelah menerima warisan dari ayahnya, seorang pedagang
sukses, dia berinisiatif mengukuhkan masjid sebagai pusat kegiatan keilmuan
masyarakat.
Perempuan ini pun mengundang para
sarjana terkemuka dari penjuru negeri ke Fez untuk mengajar. Selanjutnya,
perpustakaan Al-Qarawiyyin dilengkapinya dengan buku-buku koleksi pribadi.
Belakangan, tiap sultan penguasa Fez terus menyokong warisan keluarga Al-Fihri
itu sehingga tumbuh besar. Langkah-langkah yang ditempuh Al-Qarawiyyin
belakangan ditiru pelbagai lembaga pendidikan Islam dan Eropa Kristen.
Kondisi Umat Islam saat ini
Inilah yang menurut kami sangat
menyedihkan, saat membaca uraian diatas terkait dengan kejayaan islam, kita
sangat bangga dan bahagia membacanya.
Namun saat kita melihat hari ini di sekitar kita, sungguh teramat sangat memprihatinkan.
Namun saat kita melihat hari ini di sekitar kita, sungguh teramat sangat memprihatinkan.
Dahulu, umat islam belum kenal yang
namanya teknologi mesin ketik dan kertas sebagus sekarang apalagi komputer,
mereka hanya mengenal tinta dan kulit hewan, daun kurma, kain, tapi mereka
begitu bersemangat menulis banyak buku.
Anda bisa membayangkan, orang dahulu
saat buat buku yang sama, mereka harus tulis ulang berkali-kali sesuai dengan
jumlah yang ingin mereka gandakan.
Sungguh jauh berbeda dengan sekarang, dimana orang mau nulis begitu mudah, bisa tulis di ekrtas, komputer, bahkan menulis dimanapun dari handphone juga mudah, yang selanjutnya juga sangat mudah dicopas dan dicetak ribuan kali juga mudah.
Sungguh jauh berbeda dengan sekarang, dimana orang mau nulis begitu mudah, bisa tulis di ekrtas, komputer, bahkan menulis dimanapun dari handphone juga mudah, yang selanjutnya juga sangat mudah dicopas dan dicetak ribuan kali juga mudah.
Namun anehnya, kita masih sulit
menemukan tulisan-tulisan dari umat muslim yang mendunia. Memang ada, tapi
jumlahnya tak sebanding dengan yang
seharusnya.
Hal ini mungkin dikarenakan sesuai yang dikatakan orang Yahudi, bahwa umat islam saat ini memang MALAS MEMBACA. Bahkan saat sudah dihina oleh orang Yahudi sebagai orang yang malas membaca sekalipun, bukanya sadar dan koreksi, kita justru tetap adem ayem tak mau perbaiki diri.
Hal ini mungkin dikarenakan sesuai yang dikatakan orang Yahudi, bahwa umat islam saat ini memang MALAS MEMBACA. Bahkan saat sudah dihina oleh orang Yahudi sebagai orang yang malas membaca sekalipun, bukanya sadar dan koreksi, kita justru tetap adem ayem tak mau perbaiki diri.
Bahkan
yang menyedihkan lagi jika kita melihat ada orang yang mengaku sebagai muslim,
tapi justru lebih suka membuat tulisan HOAX, atau provokasi di sosial media.
Sudah begitu, yang lainya juga tanpa mau teliti dan baca kebenaranya, sudah
langsung main komentar dan share, yang akhirnya menimbulkan saling cela di
sosial media.
Sungguh
kondisi yang sangat memprihatinkan.
SOLUSI
Bicara solusi atas kondisi ini, maka
tidak ada cara lain selain kita harus BERGERAK dengan tindakan nyata, supaya
umat islam kembali suka membaca dan menulis sebagaimana saat kejayaan islam di
masa lalu.
Tanamkan Kecintaan Membaca dari Keluarga
Langkah-langkahnya bisa dimulai dari
menanamkan budaya baca dari keluarga kita tercinta. Sebelum orang tua
menanamkan budaya baca kepada anak, maka orang tua harus memberikan contoh
bahwa dirinya adalah teladan bagi anak bahwa orang tua juga suka membaca.
Jangan
sampai menyuruh anak membaca buku, namun orang tuanya justru terlalu asyik main
sosmed dan nonton TV saat di rumah.
Jika saat kejayaan umat Islam ada
perpustakaan di setiap masjid, bahkan mereka selalu berlomba-lomba untuk
menjadikan perpustakaan masjid di tempat mereka adalah perpustakaan terbaik.
Jika di setiap masjid dan mushola
sudah ada perpustakaan, maka buatlah kegiatan-kegiatan yang positif yang bisa
bangkitkan kemajuan ilmu pengetahuan
Bentuk Komunitas Baca dan Tulis
Saat perpustakaan sudah ada di setiap
masjid dan mushola, maka buatlah komunitas atau kelompok di masyarakat mulai
dari komunitas baca hingga komunitas menulis.
Kegiatan dari komunitas tersebut juga
harus dibuat semenarik mungkin, dan kalau bisa lakukan aktivitas yang lebih
berbau aplikatif atau tindakan nyata sehingga manfaatnya bisa langsung terasa.
Misalnya
saja membuat pelatihan menulis, membuat pelatihan yang terkait skill sehingga
bisa diterapkan saat bekerja, pelatihan komputer, pelatihan bercocok tanam, les
bahasa asing gratis, dan aktivitas yang bermanfaat lainya.
Mungkin masih banyak lagi solusi untuk memajukan kembali kejayaan islam, namun dari beberapa solusi diatas, jika bisa dilakukan dengan konsisten dan terus menerus, maka bukan tidak mungkin kejayaan islam bisa kembali diraih oleh umat islam.
Mungkin masih banyak lagi solusi untuk memajukan kembali kejayaan islam, namun dari beberapa solusi diatas, jika bisa dilakukan dengan konsisten dan terus menerus, maka bukan tidak mungkin kejayaan islam bisa kembali diraih oleh umat islam.
Komentar
Posting Komentar