GURU KREATIF DENGAN LITERASI
Oleh
Puji Hastuti
Kreativitas menjadi modal utama dalam
pembangunan negara. Sumber daya alam tidak lagi menjadi yang utama. Sumber daya
insanilah yang berperanan. Untuk menyiapkan suber daya yang terampil yang
memahami dan mampu diperlukan pendidikan yang mumpuni. Salah satunya adalah
diperlukan edukasi literasi.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk membangun
budaya literasi salah satunya. antara lain pembiasaan membaca. Selain itu, juga
melaksanakan aktivitas membaca secara massal, membaca senyap, menyampaikan
laporan bacaan, dan sebagainya. Hal ini dapat di lakukan di lembaga lembaga
pendidikan dimana guru amat sangat berperan.
Setiap
pagi guru memancarkan cahaya pengetahuan dan keberbudian di ruang-ruang kelas.
Para guru memberikan materi pelajaran, berdiskusi, dan peserta didik tekun
mendengar serta antusias bertanya. Para guru mengakrabi buku; membuka lembar
demi lembar dengan seksama. Buku-buku yang diakrabi adalah buku teks pelajaran.
Buku
mata pelajaran adalah pedoman mengajar untuk guru. Sekali lagi, peserta didik
dan terutama guru bergiat membaca penuh-seluruh hingga mengkhatamkannya
berkali-kali. “Semarak literasi” seperti itu tampak bergeliat. Namun, literasi
yang demikian itu kiranya bukan patokan untuk kemudian bisa terlabeli sebagai
cakap literasi atau literat, telah berkembang pesat. Salah satu cara yang
kiranya dapat dijadikan tolok ukur adalah kemampuan membaca dan menulis–
terhadap buku-buku non pelajaran
Makna literasi dalam kamus bahasa Indonesia
adalah kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara, yang di dalamnya meliputi
kemampuan membaca dan menulis.Namun literasi juga mencakup kemampuan untuk
mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual,(adegan,video,
dan gambar)
Unesco mendefinisikan literasi sebagai
kemampuan untuk mendefinisikan, memahami, menafsirkan, mencipta kan berkomunikasi dan menghitung menggunakan
materi cetak dan tulisan yang terkait dengan berbagai bidang.
Dalam kutipan Kompas.com di peringatan hari guru nasional 23-25 November 2017
Seorang guru SD Negeri Sukamulya yang berasal dari Tasikmalaya “Ema Astri
mengatakan
” budaya
literasi merupakan prasyarat yang sangat penting dan mendasar yang harus
dimiliki oleh setiap warga Negara apabila ingin maju. Menumbuhkan minat baca
amatlah sangat penting dilakukan oleh para guru. Selain itu, membangun
sinergi antara ekosistem
pendidikan yaitukeluarga,
sekolah dan masyarakat. Keluarga, sekolah dan masyarakat saling bersinergi
dalam tri sentra literasi. Hal ini sesuai konsep pendidikan yang diajarkan KI
Hadjar Dewantara “
Gubernur DKI Anies Baswedan menuturkan “ di
Indonesia minat baca sudah ada, Cuma budaya baca yang masih sangat minim,
karena suatu Negara bisa dikatakan maju jika penduduknya banyak yang memiliki
budaya baca yang tinggi”.
Berbagai upaya yang dilakukan untuk
membangun budaya literasi tentunya perlu disambut baik. Walau demikian, untuk
semakin menarik minat baca, tentunya diperlukan kreatifitas, karena membangun
minat baca bukan hal yang mudah ditengah godaan gadget dan tayangan TV yang kurang mendidik. Belum lagi budaya
lisan yang masih kuat di tengah masyarakat kita.
Literasi bukan hanya diidentikkan
dengan aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk memahami
berbagai isu dan persoalan yang ada dalam kehidupannya, serta kemampuannya
dalam memecahkan masalah. Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang literasi
sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional,
nilai-nilai budaya, dan pengalam Guru perlu diyakinkan bahwa walaupun menulis buku bukan perkara
gampang karena menuntut
kesiapan
referensi, waktu, dan kemumpunian menulis, tetapi menulis buku bisa diawali
dengan mengumpulkan artikel. Penerbit indie menjadi jalan paling realistis menerbitkan
buku di saat masih sedikit tulisan guru yang mampu menembus penerbit mayor.
Guru bisa menulis tema apa saja yang dikuasainya. Tak melulu babakan
pendidikan. Namun, sebelum mengarah menulis buku, minat baca guru mesti
ditingkatkan. Sebuah buku bermutu tentu berangkat dari pembacaan yang baik oleh
si penulis.. Anies Baswedan menuturkan pentingnya meningkatkan minat baca guru
guna mewujudkan kompetensi guru.
Saat ini hanya 25 persen guru yang bisa
menguasai teknologi .Sebagian besar guru Masih terkedala akses informasi
teknologi . Demi mendukung percepatan penguasaan teknologi guru. Pemerintah
mengkampayekan supaya guru melek literasi . Setidaknya guru menguasai literasi
bahasa, numerik, digital, budaya, dan finansial
Menjadi
guru yang kreatif sebelumnya harus tahu terlebih dahulu makna kreatif “Orang
kreatif menggunakan pengetahuannya yang kita semua memilikinya dan membuat
lompatan yang memungkinankan
mereka memandang segala sesuatu dengan cara-cara yang baru (Quantum
learning,hal 129)
Karenanya menjadi guru yang kreatif harus
mencoba trik trik mengajar yang baik karena tipe siswa dalam belajar
berbeda-beda. Ada faktor ekternal dan internal yang mempengaruhi belajar anak
misalnya prilaku buruk. Anak mencontoh lingkungan terdekat orang tuanya pemarah
atau tidak suka berbagi, sehingga secara tidak langsung megajarkan anak meniru
untuk pelit, dll. Dan ada jenis-jenis siswa yang mengalami masalah dalam
belajar diantaranya : Siswa yang kurang motivasi, Siswa yang mengalami
penyimpangan prilaku (Kurang tatakrama) dalam hubungan intersosial, Siswa yang
tidak mengikuti proses belajar mengajar di kelas (Misal sakit), siswa yang
sangat lambat, siswa yang mengalami keterlambatan akademik, Siswa yang tidak
mampu mencapai tujuan belajar atau hasil belajar sesuai dengan pencapaian usianya.
Menjadi guru yang kreatif dengan memberi
kebiasaan berliterasi kepada siswa akan menggiatkan pribadi guru itu sendiri
karena akan menimbulkan efek keingin tahuan yang kuat dari membaca.
Guru
haruslah menjadi tauladan bagi peserta didiknya seperti dicontohkan Rasulullah
SAW : “
Karena dalam keterangan hadits Rasulullah Saw
yaitu : kullukum roo‟in wa
kullukum masuulun an ro‟iyyatihi “ Yang
artinya : Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban
nya tentang kepemimpinannya. H.R. Bukhori Muslim)
Setiap gerakan tingkah laku polah pikir kita
pasti secara langsung atau tidak akan diikuti oleh peserta didik baik secara
sadar ataupun tidak. Karenanya dalam bersikap tindakan dan prilaku kebiasaan
sehari-hari pastilah ditiru oleh peserta didik kita masing-masing.
Dalam
proses KBM seorang guru yang kreatif akan banyak belajar dari interaksi antara
siswa dan dirinya karena belajar mempunyai pengertian : sebagai proses
menyampaikan ilmu dari yang tidak tahu
menjadi tahu ( Asdelina Lubis) . Proses perubahan yang dilakukan dengan sengaja
yang kemudian menimbulkan perubahan .
Dalam diskusi Free seminar GGDN Chanel Telegram
Coach “ Suhendri Abu Faqih” mengatakan : Skinner (1958)
memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive behavior
adaftation “ Belajar merupakan suatu proses adaftasi prilaku yang bersipat
progresif. Skinner percaya bahwa proses adaftasi akan mendatangkan hasil yang
optimal apabila diberi penguatan. Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada
keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Belajar juga butuh proses yang
berarti dan membutuhkan waktu untuk mencapai hasil.
Dengan banyak membaca seorang guru akan tahu
trik cara mengajar yang baik. Dalam buku Quantum
learning hal 203 “ Orang kreatif selalu ingin tahu , suka mencoba, senang
bermain,intuitif, dan mempunyai potensi untuk menjadi kreatif.Dari membaca guru
bisa menjadi tahu cara hal yang paling sulit sekalipun dalam mengatasi
permasalahan peserta didiknya.
Pemecahan masalah adalah kombinasi dari
pemikiran logis dan kreatif. Seorang guru yang kreatif akan selalu mencari
bahan ajar yang baru, tidak melulu dengan metode ceramah, diskusi atau yang
biasa diterapkan di jaman old. Seorang guru atau dosen yang terampil akan
memilih metode yang terbaik untuk diadaftasikan pada tujuan belajarnya. Tidak
malah terpaku sempit pada satu strategi saja ( Srategi pembalajaran Aktif).
Memberikan pilihan pada siswa adalah tipe guru
abad 21 adalah sebuah kesenangan bagi generasi millennial dalam belajar. Guru mesti
tahu tipe kepribadian siswa nya ektrovert atau introvert ia sebagai pendidik
akan sukses walaupun ia adalah seorang yang
introvert.
Menjadi
guru yang kreatif dengan literasi akan menghasil peserta didik yang intan.
Yakinlah hidup ini menjalani hukum kesimbangan. Kalau diantara para guru ngin
menjadi pendidik yang INTAN haruslah menjadi GURU yang INTAN bukan INSTANISME.
(LET’S MOVE UP Adenata FLP
Penerbit Indiva). Kita harus meraihnya dengan perjuangan yang luar biasa. Seperti pepatah arab mengatakan MAN JADDA
WA JADDA “ Siapa yang sungguh-sungguh ia akan mendapatkan. Dan Proses tidak
akan membohongi hasil yang akan kita raih. Kita akan merasakan kebanggaan
tersendiri ketika siswa kita sudah berhasil meraih cita-citanya. Pembiasaan
dalam proses pendidikan menurut Prof Arif Rahman dalam seminar hari guru
nasional (Sekolah dengan model literasi terbaik dunia abad 21 untuk pendidikan
dasar ) di Lab School bulan Nopember 2018 lalu mengatakan “ Membiasakan memberi
tahu kebaikan rutin setiap hari akan terlihat hasilnya dalam waktu 4 tahun berjalan.
Kreatifitas
guru juga dapat dipengaruhi oleh perhatian dan pembinaan pimpinan atau lembaga
tempat ia bertugas. Jika seorang guru tidak pernah mendapat perhatian untuk
memperoleh pembinaan jangan harap kreatifitas akan muncul dengan sendirinya.
Setiap orang memiliki kreatifitas dalam
dirinya. Kreativitas akan datang jika kesempatan muncul di depan mata. Cara
berpikir kreatif ditandai dengan bertemunya kecerdasan intelektual dengan
kecerdasan emosional. Ada beberapa sikap yang harus dimiliki agar bisa berpikir
kreatif yakni: sikap terbuka, sikap bebas,otonom, dan percaya diri.
Terlepas dari hal tersebut seorang guru tidak
harus bergantung dari pimpinannya haruslah terus mengasah potensi yang
dimilikinya dengan belajar otodidak mencari pengetahuan dari sumber yang
relefan sehingga kemampuan dalam dirinya terus terasah dengan tidak bergantung
pada orang lain. Dengan era digital sekarang ini sangatlah mudah jika ada
kemaun untuk bisa. Hanya tergantung kepada pribadi masing-masing guru tersebut
ingin menjadii kreatif atau hanya sekedar gugur kewajiban mengajar menyampaikan
ilmu tanpa ada perubahan dari tahun ke tahun. Gelar keilmuan, profesi pendidik
melekat dalam dirinya hanya sebatas titel tidak ada sedikitpun kearah lebih
baik sebagai guru jaman now yang harus terus dituntut update keilmuan. Seorang
guru harus berpedoman bukan hanya senang mengajar, tapi senang belajar, karena
setiap anak butuh proses dengan bakat yang dimilki nya masing-masing.
Guru yang kreatif menurut Huizaifah Arifin dalam free seminar GGDN Chanel telegram yaitu
Inovatif,
Percaya diri, Komunikatif,Siap jadi pembelajar sejati, Tiada keterbatasan,suka
tantangan,menyenangkan. Dalam arti guru yang kreatif selalu ekpresif, membuat
kegiatan belajar lebih menyenangkan dengan jiwa –jiwa yang cerdas dan punya
kreatifitas tinggi.
Kreatfitasa tanpa batas menjadi suatu keharusan
yang menyenangkan. Karya yang baik adalah orisinalitas karya, inovasi, dan
kreatifitas serta bermanfaat. Berkarya bukan untuk dilihat, jangan takut kalah
atau salah. Karena yang penting adalah esensi bukan cari sensasi . Karena tidak
semua perjuangan akan berhasil tapi tidak akan ada keberhasilan tanpa perjuangan.
Guru kreatif dengan literasi anak bangsa yang
memiliki peradaban tiinggi seperti masa kejayaan islam di jaman nya. Menjadi
guru yang kreatif sepanjang pengabdian nya mendidik anak bangsa tidak akan
sia-sia. Kita akan selalu dicintai dirindukan oleh peserta didik sampai
kapanpun Menjadi guru kreatif harus juga mengajar dengan hati niat yang tulus
mencerdaskan anak bangsa. Menorehkan bibit ilmu kepada siswa sehingga apapun
cita-cita mereka hidup nya akan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi
kemaslahatan semua orang. Mendidik siswa dengan hati tidak harus diukur dengan
materi. Mendidik siswa dengan keilmuan literasi yang tinggi dengan kretafitas
yang terus digali akan melukiskan keprbadian sejati bagi para siswa yang mandiri.
Guru kreatif dengan literasi akan menghadirkan
siswa semakin mewujudkan dengan akhakul karimah dengan selalu mengajarkan
membaca menulis yang tinggi dengan membaca perkembangan jaman di era digital
semakin membuka cakrawala dunia. Mencerahkan peradaban nilai bangsa yang
dinamis semakin kreatif diakui oleh dunia luar semakin beradab dan
berkemanusiaan. Dengan memiliki literasi yang tinggi siswa akan terus terasah
menggali potensi semakin tinggi keingin tahuan semakin mencerahkan dunia
pendidikan di jaman yang akan datang. Sehingga kita sebagai guru semakin faham
bahwa sebagai pendidik harus terus belajar dengan inovasi terbaru. Karena
sesuai keterangan pepatah arab : “ Didiklah
putra –putri mu sesuai dengan jaman nya” semakin kita banyak membaca dan
belajar akan semakin tahu letak kekurangan diri kita. Semakin merasa kita bukan
lah siapa-siapa di mata Allah Swt.
Semoga terinpirasi menjadi guru kreatif dengan
literasi akan semakin banyak bintang-bintang pelajar bertebaran di bumi
nusantara ini dari lulusan
madrasah, Menjadikan madrasah lebih baik ke depan nya.
Komentar
Posting Komentar