Membumikan Literasi Aksara dan Bahasa Sunda di Madrasah

Oleh Iis Novi Rahmayanti 

Akhir-akhir ini istilah literasi sudah tidak asing lagi disetiap kalangan. Tentu saja bagi yang bergelut di bidang pendidikan istilah literasi sudah bukan hal aneh dilakukan, namun di kalangan masyarakat contohnya para orang tua yang sudah mulai mengenal kata literasi. Banyak kegiatan-kegiatan menarik dijenjang sekolah dasar yang diprakarsai oleh satgas Gerakan Literasi, sehingga menjadi satu upaya pengenalan kegiatan literasi kepada siswa dan orang tua siswa sendiri.
Program Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) membuat program literasi yakni Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dengan membentuk satuan tugas (Satgas) Gerakan Literasi yang terdiri dari beragam unsur yakni birokrat, akademisi, pegiat literat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Program ini berhasil membius berbagai kalangan dalam mengenalkan literasi.  Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini dibentuk berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, dimana dalam peraturan tersebut tertulis kewajiban membaca buku non teks pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai setiap hari di sekolah. Begitu pula gerakan-gerakan literasi sudah mulai menggeliat di madrasah-madrasah yang merupakan lembaga pendidikan dibawah naungan Kementerian Agama.
Kegiatan literasi bisa mencakup dari beberapa kegiatan yang dilakukan, dimulai dari membaca, menulis, mendengarkan, memahami, menerjemahkan, berapresiasi, menganalisis bahkan berbicara. begitu pula dengan aspek literasinya, semua ilmu bisa diterapkan selama ilmu tersebut dapat mempunyai nilai positif bagi si pelaku literasi, satu diantaranya dalam aspek kebudayaan.
Kebudayan bangsa Indonesia sangat beranekaragam, karena Indonesia merupakan negara kepulauan dan juga letaknya yang strategis karena berada di jalur pelayaran yang menghubungkan negara-negara Barat dan Timur. Banyak berlabuhnya kapal-kapal dagang dari berbagai negara membuat masyarakat Indonesia terpengaruh budaya dari luar. Dari mulai pengaruh agama, sistem pemerintahan, sosial hingga percampuran kebudayaan. Salah satu contoh keanekaragaman budaya yang dipengaruhi oleh sistem pemerintahan adalah penggunaan aksara Sunda yang ada di Jawa Barat.
Pada masa sebelum VOC masuk ke Indonesia, masyarakat Jawa Barat mengenal Aksara Sunda Kuno, Aksara Latin, Aksara Arab Gundul (Pegon) dan Aksara Jawa (Cacarakan). Kemudian setelah VOC berkuasa di Indonesia, pada tanggal 3 November 1705 VOC membuat surat keputusan, bahwa aksara resmi di daerah Jawa Barat hanya meliputi Aksara Latin, Aksara Arab Gundul (Pegon) dan Aksara Jawa (Cacarakan). Sangat disayangkan keputusan itu pun didukung oleh para penguasa Cirebon dengan menerbitkan surat keputusan serupa pada tanggal 9 Februari 1706 yang mengakibatkan Aksara Sunda Kuno sempat terlupakan selama berabad-abad sehingga masyarakat Sunda tidak lagi mengenal aksaranya.
Aksara Sunda Kuno pertama kali ditemukan pada prasasti-prasasti yang terdapat di Astanagede, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, dan Prasasti Kebantenan yang terdapat di Kabupaten Bekasi. Aksara Sunda disebut juga dengan aksara Ngalagena. Menurut catatan sejarah aksara ini telah dipakai oleh orang Sunda dari abad ke -14 sampai abad ke- 18. Jejak aksara Sunda dapat dilihat pada Prasasti Kawali atau disebut juga Prasasti Astana Gede yang dibuat untuk mengenang Prabu Niskala Wastukancana yang memerintah di Kawali, Ciamis, tahun 1371-1475.
Selain ditemukan dalam prasasti-prasasti, aksara Sunda kuno ditemukan juga dalam naskah Sunda kuno. Biasanya naskah Sunda kuno berasal dari daun (ron) palem tal (Borassus flabellifer) maka biasanya disebut daun lontar, di mana masing-masing daunnya dihubungkan dengan seutas tali. Posisi dari tali tersebut bisa ditengah-tengah daun atau bisa disisi kiri daun ataupun kanan daun. Penulisan dilakukan dengan menorehkan peso pangot, yakni pisau khusus untuk menulis aksara.

Dari empat jenis Aksara Sunda ini, Aksara Sunda Kuna dan Aksara Sunda Baku dapat disebut serupa tapi tak sama. Aksara Sunda Baku merupakan modifikasi Aksara Sunda Kuna yang telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Modifikasi tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan le pepet), dan perubahan bentuk huruf (misalnya huruf na dan ma). Sedangkan menurut ensklopedi, aksara Sunda pegon adalah aksara Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda. Kata "pegon" konon berasal dari kata berbahasa Jawa "pégo" yang berarti 'menyimpang'. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim. Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan Gundhil. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal (aksara swara) yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.
Di zaman sekarang  penggunaan Aksara Sunda memang sudah jarang ditemukan, di provinsi Jawa Barat hanya di Kota Bandung dan Kabupaten Purwakarta yang mulai melestarikan aksara Sunda dengan menempatkan aksara-aksara tersebut kedalam penulisan nama-nama instansi ataupun nama-nama jalan raya di kedua daerah tersebut. Sejalan dengan hal itu juga sesuai dengan Peraturan Daerah Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 tentang Pelestarian Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah yang kemudian diubah menjadi Perda No. 14/2014 dan Pergub Jabar Nomor 69 Tahun 2013 tentang Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa dan Sastra Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan menengah di Jawa Barat. Aksara Sunda dikenalkan dijenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, tertera dalam kurikulum 2013 edisi revisi 2017 mata pelajaran Bahasa Sunda dikelas X dalam Kompetensi Dasar 3.8 “Menganalisis bentuk dan tipe aksara Sunda sesuai dengan kaidah-kaidahnya”dan 4.8 “Mendemonstrasikan aksara Sunda sesuai dengan kaidah-kaidahnya”.
Mata Pelajaran Bahasa Sunda merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal yang harus diampu oleh siswa disetiap satuan pendidikan, baik yang dibawah Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama menurut Pergub Jabar Nomor 69 tahun 2013. Untuk di daerah Bekasi khususnya, karena keterbatasan ketersediaan tenaga pengajar di madrasah-madrasah yang ada di kabupaten Bekasi, sehingga penerapan muatan lokal bahasa Sunda masih sangat minim yang mengakibatkan banyak siswa-siswi madrasah yang belum mengenal aksara sunda.  Namun di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kabupaten Bekasi  dari tahun pelajaran 2017/2018 hingga sekarang bisa menerapkan muatan lokal Bahasa Sunda.
Siswa-siswi MAN 1 Bekasi sudah mulai mengenal kata-kata berbahasa Sunda dengan menggunakan tulisan aksara Sunda, dari mulai aksara, angka, hingga cara menuliskan aksara-aksara Sunda tersebut. Awal mulanya siswa-siswi madrasah merasa aneh bahkan asing dengan aksara Sunda, namun seiring dengan waktu karena usia remaja memiliki rasa ingin tahu ke hal yang baru ataupun hal yang mereka anggap unik menjadikan aksara Sunda digemari oleh siswa-siswi MAN 1 Bekasi.  Maka  dengan perlahan tujuan untuk melestarikan serta mengembangkan kebudayaan Jawa Barat khususnya dan kebudayaan Bangsa Indonesia umumnya dapat tercapai.
Aksara Sunda dipelajari oleh siswa-siswi MAN 1 Bekasi adalah aksara yang sesuai dengan SK Gubernur Provinsi Jawa Barat Nomor 434/SK.614.PK/99 tentang Pembakuan aksara Sunda. Aksara Sunda memiliki 4 bagian yakni aksara Ngalagena, vokal mandiri, rarangken, dan angka.
1.  Aksara Ngalagena








2.  Vokal Mandiri

3.  Rarangken
                                       




4.  Angka

Dengan mengenal aksara Sunda siswa-siswi MAN bisa berliterasi dengan menggunakan aksara yang dianggap unik sehingga menambah minat dan motivasi tersendiri bagi siswanya sendiri. Dari mulai membaca perkata, hingga sampai bisa menulis sebuah kalimat bahkan membaca sebuah wacana yang bertuliskan aksara Sunda. Di setiap awal pembelajaran siswa dan siswi MAN diberi waktu untuk belajar bahkan sharing dalam belajar menggunakan bahasa Sunda pada umumnya dan aksara Sunda pada khususnya.
Hasil dari mengeja, membaca, menulis, bercerita bahkan berdiskusi dituangkan kedalam jurnal bahasa sunda. Jurnal bahasa Sunda tersebut bisa dijadikan acuan satu diantaranya dalam penilaian kompetensi siswa.

Mudah-mudahan dengan diterapkannya literasi aksara Sunda di MAN 1 Bekasi dapat diikuti oleh madrasah-madrasah lain yang ada dikabupaten Bekasi, sehingga siswa-siswi madrasah mengenal aksara sunda khususnya dan dapat berbicara bahasa Sunda pada umumnya, serta memahami bahasa Sunda sebagai bahasa ibu yang ada di Jawa Barat.

DAFTAR  PUSTAKA
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. 2017. Kurikulum Tingkat Daerah Muatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda Berbasisi kurikulum 2013 Edisi revisi jenjang SMA/SMK/MA/MAK. Bandung.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.2007. Aksara Sunda. Bandung.
Aris Sandona. 2016. Asal mula Aksara Sunda.Portalsundaterbaru.blogspot.com
Th Pigeaud. 1970. Literature of java. Wikipedia Bahasa Indonesia. Https//id.wikipedia.org/wiki/Abjad Pegon.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UPAYA GURU RAUDHATUL ATHFAL DALAM MENUMBUHKAN MINAT LITERASI PADA ANAK USIA DINI

Kejayaan Islam Karena Literasi, Kemunduran Islam Karena Umat Tinggalkan Liteasi

LITERASI IQRO MEMBANGUN PERADABAN GENERASI MILENIAL