MEMBANGUN KUALITAS BANGSA DENGAN BUDAYA LITERASI
Oleh H. Ma’mun Zahrudin
( Bang MZ )
A.
PENDAHULUAN
Salah satu fungsi pendidikan yang tertuang
dalam UUD 1945 adalah untuk mencerdasakan bangsa. Hal tersebut juga diamanatkan
dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa. Tujuan pendidikan tersebut secara jelas menggambarkan bagaimana
urgensitas pendidikan dalam mempersiapkan manusia atau masyarakat dalam
menghadapi tantangan global.
Pendidikan nasional diibaratkan sebagai
bangunan gedung yang sangat kuat dan mewah sehingga dibutuhkan dasar dan
fondasi yang kuat untuk menjaga kualitas sehingga tidak mudah roboh.
Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan di hasilkan oleh seberapa
ilmu pengetahuan yang didapat, sedangkan ilmu
pengetahuan di dapat dari informasi yang diperoleh dari lisan
maupun tulisan. Semakin banyak
penduduk suatu wilayah yang semangat mencari ilmu
pengetahuan, maka akan semakin tinggi peradabannya. Budaya suatu bangsa
biasanya berjalan seiring dengan budaya
literasi, faktor kebudayaan dan peradaban dipengaruhi oleh membaca yang dihasilkan dari temuan- temuan kaum cendekia yang
diabadikan dalam tulisan yang menjadikan warisan literasi informasi yang sangat
berguna bagi proses kehidupan sosial yang dinamis.
B.
BUDAYA LITERASI
Secara sederhana, literasi
dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya
dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki
arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan
mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacammacam keberaksaraan atau literasi , misalnya literasi komputer
(computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi
(technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi
(information literacy), bahkan
ada literasi moral (moral
literacy). Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melek teknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap
lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik. Seorang dikatakan literat jika
ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan
melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut.
Kepekaan atau literasi pada seseorang tentu tidak muncul begitu saja. Tidak ada
manusia yang sudah literat sejak lahir. Menciptakan generasi literat membutuhkan proses panjang dan sarana yang kondusif. Proses ini
dimulai dari kecil dan dari lingkungan keluarga, lalu didukung atau
dikembangkan di sekolah, lingkungan pergaulan, dan lingkungan pekerjaan. Budaya
literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran di sekolah
dan ketersediaan bahan bacaan
di perpustakaan. Tapi kita juga menyadari bahwa literasi tidak harus diperoleh dari bangku sekolah
atau pendidikan yang tinggi. Kemampuan akademis yang tinggi tidak
menjamin seseorang akan literat. Pada dasarnya kepekaan dan daya kritis akan
lingkungan sekitar lebih diutamakan sebagai jembatan menuju generasi literat,
yakni generasi yang memiliki ketrampilan berpikir kritis terhadap segala
informasi untuk mencegah reaksi yang bersifat
emosional.
Berbagai faktor ditengarai sebagai penyebab rendahnya
budaya literasi, namun kebiasaan membaca dianggap sebagai faktor utama dan
mendasar. Padahal, salah satu upaya peningkatan mutu sumber daya manusia agar cepat menyesuaikan diri
dengan perkembangan global yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia
adalah dengan menumbuhkan masyarakat yang gemar
membaca (reading society).
Kenyataannya masyarakat masih menganggap aktifitas membaca untuk menghabiskan
waktu (to kill time), bukan mengisi
waktu (to full time) dengan sengaja.
Artinya aktifitas membaca belum menjadi kebiasaan (habit) tapi lebih kepada kegiatan
’iseng’.
Menurut Kimbey (1975,662) kebiasaan adalah perbuatan
yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya unsur paksaan. Kebiasaan
bukanlah sesuatu yang alamiah dalam diri manusia tetapi merupakan hasil proses belajar
dan pengaruh pengalaman dan keadaan lingkungan
sekitar. Karena itu kebiasaan dapat dibina dan ditumbuhkembangkan. Sedangkan membaca (Wijono 1981, 44 dan Nurhadi 1978, 24) merupakan suatu proses komunikasi ide
antara pengarang dengan pembaca, di mana dalam proses ini
pembaca berusaha menginterpretasikan
makna dari lambanglambang atau bahasa pengarang untuk
menangkap dan memahami ide pengarang.
Maka kebiasaan membaca adalah kegiatan membaca yang dilakukan
secara berulangulang tanpa ada unsur paksaan.
Kebiasaan membaca mencakup waktu untuk membaca, jenis bahan bacaan, cara
mendapatkan bahan bacaan, dan banyaknya buku / bahan bacaan yang dibaca.Kemampuan membaca merupakan dasar bagi terciptanya kebiasaan membaca. Namun
demikian kemampuan membaca pada diri seseorang bukan jaminan bagi terciptanya kebiasaaan membaca karena
kebiasaan membaca juga dipengaruhi oleh faktor lainnya (Winoto, 1994 : 151), seperti ketersediaan bahan bacaan.
Perkembangan kebiasaan melakukan kegiatan
merupakan proses belajar yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Gould (1991, 27) menyatakan bahwa dalam setiap proses belajar, kemampuan
mendapatkan ketrampilan-ketrampilan baru tergantung
dari dua faktor, yaitu faktor internal dalam hal ini kematangan individu dan
ekternal seperti stimulasi dari lingkungan.
C.
BUDAYA LITERASI DAN KUALITAS BANGSA
Sering kita bertanya dalam
hati, mengapa negara kita susah bersaing dengan negara-negara lain, apa ada yang salah dalam system perikehidupan rakyat kita. Seberapakah strata pendidikan, kemampuan dan
penguasaan ilmu pengetahuan yang dimiliki, inovasi dan rekayasa teknologi yang
sudah kita buat, apa yang telah
dihasilkan karya-karya monumental putra-putri Bangsa Indonesia saat ini, semua
itu menggelitik di sanubari para
kaum cerdik pandai yang merumuskan dari titik mana kita mau mulai membenahi
bangsa kita.
Indonesia sebagai negara berkembang, belum memiliki
budaya membaca seperti halnya Jepang. Menurut laporan dari Badan Pusat
Statistik berkenaan dengan perilaku sosial budaya di dalam masyarakat diketahui persentase penduduk berumur 10
tahun ke atas yang membaca surat kabar atau majalah
sebesar 18.94% pada tahun 2009 atau turun dari angka
sebelumnya sebesar 23.46% pada tahun 2006. Tentu saja ini merupakan berita yang menyedihkan bagi
Negara berkembang yang ingin maju. Indonesia temasuk salah satu Negara yang
paling sedikit peminat membacanya.
Rendahnya minat baca masyarakat kita sangat mempengaruhi kualitas bangsa
Indonesia, sebab dengan rendahnya
minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di
dunia, di mana pada ahirnya akan
berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk
dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu
kita kaji apa yang menjadikan mereka lebih maju. Ternyata meraka lebih unggul di sumber daya manusianya. Budaya membaca mereka telah
mendarah daging dan sudah menjadi kebutuhan mutlak dalam kehidupan sehari
harinya. Untuk mengikuti jejak merekadalam
menumbuh-kan minat baca sejak dini perlu ditiru dan diterapkan pada
masyarakat, terutama pada tunas-tunas bangsa
yang kelak akan mewarisi negeri ini.
Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan penge tahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di
dapat, sedangkan ilmu pengetahuan didapat dari
informasi yang diperoleh dari lisan maupun
tulisan. Semakin banyak penduduk
suatu wilayah yang haus akan
ilmu pengetahuan semakin tinggi kualitasnya.
Kualitas suatu bangsa biasanya berjalan seiring dengan
budaya literasi, faktor kualitas dipengaruhi oleh membaca yang dihasilkan dari
temuan- temuan para kaum cerdik pandai yang terekam dalam tulisan yang
menjadikan warisan literasi informasi yang sangat berguna bagi proses
kehidupan social yang dinamis. Para penggiat pendidikan sepakat bahwa pintu
gerbang penguasaan ilmu pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Sebab dengan membaca dapat membuka jendela dunia.
Ketika jendela dunia sudah terbuka, masyarakat Indonesia akan dapat melihat
keluar, sisi-sisi apa yang ada dibalik jendela tersebut. Sehingga cara berpikir
masyarakat kita akan maju dan keluar dari zona kemiskinan menuju kehidupan yang sejahtera.
Bila sebelumnya membaca identik dengan buku atau
media cetak saja, maka di zaman sekarang yang sudah serba digital, membaca
tidak lagi terpaku pada membaca kertas karna segala informasi terkini teleh
tersedia di dunia maya/ internet dan media elektronik lainnya. Dengan semakin
mudahnya media untuk mendapatkan informasi bacaan maka sudah seharusnya kita
tingkatkan minat baca kita.
Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang
menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Tidak mungkin menjadi
bangsa yang besar, apabila hanya mengandalkan budaya oral yang mewarnai
pembelajaran di lembaga sekolah maupun perguruan tinggi. Namun disinyalir bahwa
tingkat literasi khususnya di kalangan sekolah semakin tidak diminati, hal ini
jangan sampai menunjukkan ketidakmampuan dalam mengelola sistem pendidikan yang
mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah sudah saatnya, budaya literasi harus
lebih ditanamkan sejak
usia dini agar anak bisa mengenal bahan bacaan dan menguasai dunia
tulis- menulis.
D.
MENINGKATKAN DAYA BACA MASYARAKAT
Bagaimana cara meningkatkan daya baca masyarakat Indonesia
sehingga akan terbentuk budaya literasi? Ada beberapa program yang layak
dijalankan.
Pertama, kita
perlu memperbaiki kualitas dan pemerataan pendidikan agar
bisa mendorong tingkat melek huruf yang lebih tinggi. Infrastruktur (fasilitas)
dan suprastruktur (sumber daya manusia) perlu dikembangkan hingga menjangkau
pelosok Tanah Air. Jangan sampai ada masyarakat di pedalaman Nusantara yang
masih sulit belajar gara- gara tidak ada sekolah, kekurangan guru, atau minim fasilitas lain. Negara bertanggung jawab
memenuhi fasilitas pendidikan bagi warganya.
Kedua, kita bangun lebih banyak perpustakaan di semua
daerah sebagai tempat yang nyaman untuk membaca, jumlah koleksi buku yang
banyak, dan menawarkan kegiatan yang menarik.
Ketiga, dibutuhkan program- program berkelanjut an untuk lebih memperkenalkan buku dan mendorong minat
baca buku ke sekolah dan masyarakat umum. Jangan terpaku pada seremoni, tetapi fokus pada tero bosan yang lebih membumi
dan memikat kaum muda untuk membaca.
Keempat, dari sisi penerbit, kita dorong agar semakin banyak buku
diterbitkan, terutama buku-buku yang berkualitas dari berbagai bidang. Kian
banyak tawaran buku menarik, kian banyak alternatif bacaan bagi masyarakat.
Kelima, kita dukung kekuatan masyarakat madani untuk bersama-sama pemerintah dan semua pihak
membangun peradaban membaca buku.
E.
PENUTUP
Buku adalah jendela dunia
dan membaca adalah kuncinya. Dengan membaca buku, ilmu pengetahuan akan
didapatkan. Kegiatan membaca akan menambah wawasan sekaligus mem- pengaruhi
mental dan perilaku seseorang, dan bahkan memiliki pengaruh besar bagi
masyarakat. Pada gilirannya, kegemaran membaca ini akan membentuk budaya literasi yang berperan penting dalam
menciptakan bangsa yang berkualitas.
Rumusan ini mudah diucapkan, tetapi perlu kerja keras
untuk diwujudkan, apalagi bila kita bicara tentang Indonesia. Penyebabnya,
meski sudah 70 tahun merdeka, angka melek huruf kita masih rendah. UNDP
merilis, angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Sebagai
perbandingan, angka melek huruf di negeri jiran kita, Malaysia, mencapai 86,4
persen. Hal ini terkait dengan pendidikan kita yang masih belum maju. Sebagai
gambaran, berdasarkan data UNESCO, Indonesia berada di urutan ke- 69 dari total
127 negara dalam indeks pembangunan pendidikan UNESCO. dan mengingatkan pemerintah dan elit politik agar
segera mengambil kebijakan yang efektif. Jika tidak, Indonesia akan terus
terpuruk dan menjadi negara paria. Budaya literasi adalah masalah serius.
Akhirnya, mari kita membangun kesadaran bersama, budaya literasi Indonesia sudah berada
dalam kondisi kritis. Kalau
para pemimpin kita kelihatan
begitu tenang, bahkan tidak peduli, tampaknya sudah saatnya kelompok- kelompok masyarakat sipil memperjuangkan
budaya literasi dan mengingatkan pemerintah dan
elit politik agar segera
mengambil kebijakan yang efektif. Jika tidak, Indonesia akan terus terpuruk dan
menjadi negara paria. Budaya literasi adalah masalah serius.
DAFTAR PUSTAKA
Gould, Toni S., 1991. Get Ready to Read :
a Practical Guide for Teaching Young Children at Home and in School, New
York : Walker Company.
Kimbley, Gregory A., 1975. “Habit”.
Encyclopedia Americana,
Nurhadi, Mulyani Ahmad., 1978. “Pembinaan Minat Baca dan
Promosi Perpustakaan”. Berita Perpustakaan Sekolah,
Wijono, 1981. “Bimbingan Membaca”. Berita Perpustakaan Sekolah,
Winoto, Yunus. 1994. ”Bagaimana Caranya Mengetahui
Kemampuan Membaca Anda.” Pembimbing Pembaca,
Republika, 12 september 2015
Komentar
Posting Komentar