LITERASI IQRO MEMBANGUN PERADABAN GENERASI MILENIAL

Oleh : Nina Indriana

Membaca dan menulis merupakan jantung bagi kemajuan sebuah generasi, bila ia tidak membaca dan menulis, maka tidak punya jantung. Sekarang zaman paradoks, tekhnologi menguasai kaum muda, memudahkan Ia mendapatkan informasi secara mudah dan cepat. Kapan pun dan dimana pun ingin mendapatkan informasi, maka bisa didapatkan secara langsung seketika itu, tersedia di depan mata.
Membumikan kegiatan literasi menjadi kultur, budaya, habit, sikap, dan karakter hidup kepada kaum muda merupakan substansi yang mesti dilakukan. Akselerasi lalu lintas komunikasi online dan medsos di era melenial ini bersicepat merubah paradigma manusia di seantero dunia. Dunia terhubung menjadi tak berantara dan berjarak, abad melenial yang memukau, fenome-nal dan ajaib.
Apakah literasi itu?
Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengo lah dan memahami informasi saat mela-kukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, sat ini istitah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas. Dan sudah merambah pada praktik kultur yang berkaitan dengan persoalan social dan politik.
        Definisi literasi menunjukan paradigma baru dalam upaya memaknai literasi dan pembelajarannya. Kini ungkapan literasi memiliki banyak variasi seperti literasi media, literasi computer, literasi sains, literasi sekolah, dan masih banyak yang lainnya.
        Hakikat ber-literasi secara kritis dalam era milenial paling tidak diringkas dalam lima verbal; memahami, melibati, menggunakan, menganalisa, dan mentransfor masikan teks. Kesemuanya merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kecakapan membaca dan menulis. Literasi merupakan kemampuan mereka huruf atau aksara yang didalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya; kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar). 
        National Institute For Litercy, mendefini-sikan litersi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Definisi ini memaknai literasi dari perspektif yang lebih konstekstual, tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.
        Eductioan Development Centre (EDC) menyatakan bahwa literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Namun, lebih dari itu, literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa lierasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.
        Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan pengala man. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks dimana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memper olehnya.
Untuk apa literasi?
Menilik dari beberapa pendapat tentang literasi, maka dapatlah kita maknai secara sederhana, bahwa literasi adalah kompetensi skill yang dimiliki oleh seorang, setelah melewati masa berlatih baik kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Ketika kompetensi itu sudah given dalam diri seseorang, maka akan berpengaruh kepada pola pikir, tingkah laku, dan karakter.
Terjadinya perubahan pola pikir, tingkah laku, dan karakter akan menciptakan sebuah tatanan social, menuju destinasi peradaban, bagian kebudayaan yang halus, indah, maju, luhur, sopan dan tinggi yang diagungkan. Masyarakat yang mempunyai kebudayaan berarti sudah mencapai peradaban yang tinggi.
Teringat pada produk literasi seorang Professor Doctor Koencaraningrat, menyuratkan bahwa peradaban adalah bagian yang halus dan indah laksana seni masyarakat yang sudah maju didalam kebudyaan tertentu artinya mempunyai kebudayaan yang tinggi. Seseorang yang mempunyai sifat dan karakter, halus, indah, sopan, santun, luhur , maka dikatakan sudah mempunyai peradaban. Maka dapatlah diambil benang merah bahwa literasi membangun perada ban.
Pada tulisan ini, mari kita memahami bersama tentang teori konsep dan peta jalan yang telah dicontohkan oleh tokoh atau bapak literasi dunia yakni Nabi dan Rasul Muhammad Saw, sekitar 1400 tahun yang lampau. Beliau menerima titah dan daulat dari Allah SWT sebagai literasi pertama dan perdana dengan “bacalah”. Ini  merupakan kebutuhan fitrah yang primer bagi kita.  Dapat dibayangkan bila suatu kelompok, komunitas dan himpunan orang-orang yang tidak cakap membaca, menulis, menghitung, dan menggambar?
Akurasi ketepatan diksi narasi yang paripurna dan sempurna. Literasi pertama baginda nabi Muhammad Saw menerima dari Sang Pemilik perbendaharaan ilmu, Allah Ya Aliim, Qur’an Surat Al-Alaq (96) ayat 1, “ Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,” . Perintah membaca pertama dan perdana kepada utusanNya,  membaca alam semesta dan manusia. Maklumat Allah SWT untuk mengung-kap, menyingkap, membabar segala yang tersirat dan tersurat.
Begitu pun dalam surat Al-Baqarah ayat 31 “ Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudin Dia perlihatkan kepada para malikat seraya berfirman, sebutkan kepada Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar”. Pelajaran pertama untuk Nabi Adam As, Allah ajarkan semua nama-nama benda.
Dalam Al-Qur’an, kata menulis diulang sebanyak 303 kali dan kata membaca sebanyak 89 kali. Ada banyak kesamaan prinsip ibadah dalam agama lain. Namun, ada satu yang tidak sama di Islam dengan agama lain, yaitu perintah tegas membaca. Membaca seharusnya menjadi ciri khas genersi melenial khususnya generasi Islam.
Ada pun contoh produk literasi dari Nabi dan Rasul Muhammas Saw, apa yang disebut dengan Piagam Madinah.  Mahakarya fenomenal dan monumental yang tak terbantahkan. Traktat konsensus dan komitmen, kerja sama dan kesepakatan Baginda Nabi kepada para pihak, masyarakat Yastrib yang kelak beralih nama menjadi Madinah.
Sosok manusia agung utusan Allah SWT, dalam dirinya mengejawantah sikap dan karakter hidup empat pilar integritas kepribadian yaitu;
 Pertama; siddiq artinya benar, Benar dalam perkataan maupun perbuatannya. Sebagaimana Allah SWT maklumatkan dalam quran surat An-Najm ayat 4 dan 5; “ Dan tiadalah yang diucap-kannya itu (Al-Qur’an) menurut kemampuan hawa nafsunya”, “ Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”
Kedua; amanah, bisa dipercaya. Jika suatu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Terbukti dengan gelar Al-Amin, terpercaya jauh sebelum Beliau diangkat jadi Rasul, gelar yang disematkan oleh penduduk kota Mekkah.
Ketiga; tabligh. Menyampaikan segala perin-tah Allah yang ditujukan kepada manusia, disam-paikan oleh nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.
Keempat; fathonah, artinya cerdas. Dalam menyampai kan 6.236 ayat Al-Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka mau masuk ke dalam Islam.
Dari narasi deskripsi tentang literasi yang dipraktekan oleh Nabi Muhammad Saw dalam kehidupan bermasyarakat seperti uraian di atas, maka munculah pertanyaan dibenak kita, apakah empat pilar kepribadian litersi itu relevan membangun peradaban generasi milenial?
 Saat era kekinian, bahasa gaul menjadi pilihan, biasa kita sebut zaman now. Seantero dunia hampir tak tersekat lagi oleh hijab pembatas. Nun jauh diujung desa peloksosk negeri, lewat tekhnologi informasi dan internet kita dapat berkomunikasi tanpa jeda dengan khalayak dibagian dunia lainnya. 
Kita telah berada di era yang disebut milenial, abad ke dua puluh. Dua dasawasa, kan kita jelang bersicepat waktu berpacu, berbanding lurus dengan capaian prestasi gemilang sains tekhnologi informasi. Maha karya otak manusia bernama gadget juga menjadi ladang subur informasi. Bak berada di persimpangan jalan, menuju taman bunga eden atau taman api membara.
Ruang surga bernama mall, kereta api, bis kota, kapal verry dan ruang tunggu bandara menjadi wahana orgasme buat kita untuk bersenggama dengan tuhan abad ini, yang jamak kita sebut gadget. Mesin canggih komunikasi ini, dapat kita baca pada kamus besar bahasa indonesia dengan sebutan: Gawai_ perkakas peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis yang diartikan pula sebagai gadget pesan redaksi.
Rotasi waktu 24 jam, tanpa lelah kita semua menjadi maniak menggunakan mesin gadget untuk banyak kepen tingan. Dengan berbagai fitur dan server super cepat. Kita dapat melakukan transaksi perbankan di kantor, rumah, dan kamar tidur. Deliveri order untuk hampir semua kuliner dapat kita pesan dengan mesin gadget. Hampir bahkan untuk semua produk dapat kita beli lewat toko online, langsung transaksi lalu pesanan sampai ke alamat rumah.
Media super pintar gadget juga menyediakan perpustakaan maya, melayani publik pengguna untuk hampir semua jenis kitab dan buku juga kitab suci. Jangan bingung kendala bahasa. Pengelola jasa server, meladeni berbagai translete berbagai bahasa. Arab, Inggris, Prancis, dan bahkan hampir untuk semua bahasa pengantar. Sangat fantastis tuhan gadget abad ini.
Layanan server untuk transportasi udara, kereta api, dan kapal laut juga transportasi darat telah menggunakan jasa online. Beli tiket pesawat, kereta dan pesan gojek dan grab langsung lewat si gadget untuk pesannya. Tali-temali komonikasi persaudaraan tersedia dalam banyak pilihan. Pengelola jasa server, sebut saja massengger, sms, whatsapp, imo, dan email. Siap meladeni ontime para pengguna jasanya. Siang malam operator bekerja demi kepuasan pengguna jasanya.
Ketika seorang ibu kangen dengan anaknya yang sedang sekolah di negeri jauh Mesir. Dengan tuhan gadget dapat melakukan video-call whatsapp, massengger dan komonikasi visual dengan suara yang jernih berlangsung tanpa hijab, bak tak terpisah oleh ruang dan waktu.
Segala peristiwa dan momentum. Gadget super lengkap menyediakan perangkat kamera dengan banyak pilihan. Teknologi kamera pintar, siap mengabadikan momen itu. Bersicepat dapat diposting dan upload difacebook, instagram, dan viral diwhatsapp, massengger. Berbagai aktifitas pun dapat dipublikasi live, dengan tuhan gadget. Kapan dan dimana saja, selagi tersedia layanan jaringan internet. Pesta dunia sepak bola dengan mudah, dapat diakses lewat gadget.
Jadwal pertandingan, skor pertandi-ngan,  sovenir dan pernak pernik bola mania dapat diketahui dengan cepat. Kita telah berada di era yang disebut milenial. Abad ke dua puluh. Dua asawarsa, kan kita jelang. Bersicepat waktu berpacu. Berbanding lurus dengan capaian prestasi gemilang sains dan teknologi informasi.
Dengan produk IT bergelar gadget atau gawai tak dapat kita pungkiri dan hindari ekses dampak negatif yang ditimbulkan. Maha karya otak manusia bernama gadget juga menjadi ladang subur informasi kriminal, prostitusi online, konten pornografi, perjudian online. Konten beraroma kebencian, fitnah, berita hoax, dan radikalisme juga terorisme menggunakan teknologi komonikasi gadget.
Perederan narkoba oleh bandar besar dan mafia, menjadi media transaksi triliunan dollar. Kita semua bak berada dipersimpangan jalan. Menuju taman bunga eden atau taman api membara. Keniscayaan destinasi yang tak terelakan bagi kita insan abad melenia. Sebagai sesama insan pengguna tuhan gadget. Pilihan itu ada pada kita semua. Untuk perenungan, mari kita berhikmat.
Pertama, sepintar dan secanggih apapun tuhan gadget, hanyalah media atau mesin komonikasi buatan manusia. Jadikan tuhan gadget sebagai alat atau media dan bukan tujuan.
Kedua, bijak itu penting. Kita boleh bereforia dengan tuhan gadget. Satu hal prinsif, mari kita sadar diri dan tahu diri serta tepat guna, tepat sasaran, dan tepat waktu dalam berdaget ria.
Ketiga, mari kita jadikan tuhan gadget untuk kemanfaatan dan wahana menyintai dan mengasihi sesama, sebagai hamba Tuhan Yang Maha Kuasa. Gawai atau tuhan gadget, alat perekat persaudaraan kita semua. Gunakan dengan bijak!
Setelah kita narasi dan deskripsikan tentang literasi media era kekinian dengan segala manfaat dan dampak negatifnya dalam kepribdian peradaban individu dan sosial tentu saja sikap dan karakter hidup amanah, siddiq, tabligh, dan fahonah adalah wajib untuk kita ejawantahkan dalam dunia literasi.
Bila hal ini kita aplikasi dan imple-mentasikan menjadi budaya, kultur, habit, dan budi daya dalam prakter hidup berliterasi maka kita bersama-sama sedang menujun destinasi kesuksesan dan keselamatan membangun peradaban milenial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UPAYA GURU RAUDHATUL ATHFAL DALAM MENUMBUHKAN MINAT LITERASI PADA ANAK USIA DINI

Kejayaan Islam Karena Literasi, Kemunduran Islam Karena Umat Tinggalkan Liteasi